Cara Melawan Ketidaknyamanan Intelektual

01-150ppp

4 cara melawan pikiran “Sial, sepertinya ini akan menyulitkan.”

Penulis: Carson Tate
Penerjemah: Zane Araki

Katanya Ketidaknyamanan Intektual itu merupakan salah satu bentuk penyakit lho? Ayo cari tahu apakah kamu menderita ketidaknyamanan intelektual.

Bagi para atlet profesional, menghadapi dan mengatasi rasa sakit, kesulitan, dan ketidaknyamanan merupakan bagian dari pekerjaan sehari-hari. Pekerja yang tidak menggunakan fisik, yang merupakan mayoritas dari pekerjaan hari ini, menghadapi kesulitan yang berbeda- ketidaknyamanan intelektual.

Kamu pasti mengetahui perasaan ketidaknyamanan intelektual ini. Ini jenis perasaan yang kamu rasakan ketika akan memulai suatu proyek, dan, ketika kamu mulai membaca sekilas dokumen itu, kamu pun berpikir, Sial, sepertinya ini akan menyulitkan.

Ini akan mendorong kapasitas intelektualmu. Dan hal ini akan terasa menantang, membingungkan, dan menakutkan. Pada momen ini, kamu mungkin akan merasa ragu. Kamu mungkin akan memilih untuk menyerah. Atau lebih buruk lagi – tidak berniat mencobanya sama sekali, dan mengalihkannya ke orang lain. Ini jenis pekerjaan yang kamu sendiri tahu bahwa dengan mengerjakannya akan membuatmu jadi seseorang yang lebih baik lagi di masa depan.

Sama halnya seperti para atlet yang harus berlatih untuk merasa nyaman dalam ketidaknyamanan, kamu pun juga semestinya melakukan hal yang sama untuk meningkatkan kemampuanmu dan kemajuan dalam karirmu. Hal yang sulit, hal yang kamu rasa lebih baik dilewatkan atau dilakukan di lain waktu seringkali merupakan hal-hal yang justru paling penting untukmu. Setiap kali kita memilih untuk bermain dalam zona nyaman kita atau memilih jalan pintas daripada melakukan tantangan intelektual, kita mencegah kemampuan kita untuk berinovasi dan tumbuh berkembag, serta menyia-nyiakan uang kita (atau uang perusahaan kita), dan juga menyia-nyiakan bakat kita.

Jadi mengapa kita harus menghindari ketidaknyamanan intelektual? Karena diperlukan tingkatan tertinggi dari pemikiran, fokus, dan kehadiran kita – semaksimal mungkin hingga kita tidak tahu lagi berapa jumlah inbox kita, berapa banyaknya aplikasi media sosial yang baru diluncurkan, dan apa saja konten terbaru dari media-media di luar sana. Pekerjaan intelektual yang mendalam memanfaatkan kerja jiwa kita yang tentunya lebih perlu banyak waktu dan energi. Dan hal ini akan berlawanan dengan apa yang telah kita kondisikan untuk bekerja – yaitu  autopilot. Kita mengamati hidup versus menjalani hidup itu sendiri, apakah kita secara otomatis melihat timeline sosmed kita untuk mengalihkan perhatian kita atau justru menggunakan aplikasi untuk membuat setiap hari kita lebih hampa.

Tapi jarang sekali kita bisa berkembang ketika tugas yang kita kerjakan mudah. Sebagai seorang pelari lintas negara di bangku kuliah, saya benci dengan latihan pengulangan dalam mil yang terdiri dari lari dari set 4 hingga 61 mil. Kamu diharuskan berlari pada tiap set, yang merupakan 4 kali putaran sekitaran lintasan, secepat mungkin yang kamu bisa hanya dengan 1 lap untuk istirahat singkat antar set. Ini merupakan tantangan yang melelahkan dan membuat saya tidak nyaman setiap saat saya melakukannya. Namun, kecepatan dan ketahanan yang saya bangun melalui latihan semacam ini ternyata membuat saya siap ketika harus menghadapi tantangan dan rasa sakit dalam perlombaan yang sebenarnya. Saya siap, karena saya telah lebih dulu melalui rasa sakit melalui latihan-latihan itu hingga saya sadar saya bisa melaluinya jika saya benar-benar memaksakannya. Hanya setelah saya emilih untuk pengulangan mil dalam latihan saya dengan konsisten inilah saya berhasil memecahkan rekor pribadi saya yang sebelumnya.

Sementara para pelari bisa secara fisik mendorong melewati rasa sakit itu, kamu pun secara mental juga harus bisa melawan rasa ketidaknyamanan intelektual ini. Caranya? Dengan semata-mata memusatkan konsentrasimu pada apa yang paling utama agar tugas itu bisa terselesaikan. Ini ada beberapa strategi yang bisa kamu coba untuk mengasah fokusmu:

Bekerja dalam interval waktu yang dijadwal (dengan sedikit kejutan)

Namanya metode Pomodoro, atau metode Tomato Timer yang dikembangkan oleh Francesco Cirollo pada akhir 1980-an, dan metode didasarkan pada ide bahwa istirahat yang sering dapat meningkatkan kecerdasan mental. Teknik ini menggunakan timer untuk memisahkan tiap pekerjaan ke dalam interval, normalnya 25 menit, yang dipisahkan oleh istirahat singkat. Triknya adalah meggunakan interval waktu bekerja untuk membangun ketahananmu terhadap ketidaknyamanan intelektual. Pasang timer selama 10 menit untuk diskusi dan dorong dirimu untuk bekerja pada proyek yang menantang hingga kamu mendegar timer nya. Ini tantangan tambahan yang penting agar metode ini lebih efektif dan efisien: pastikan kamu memberikan dirimu sendiri waktu sebanyak 10 menit yang bebas dari gangguan apapun – matikan notifikasi emailmu, matikan semua peralatan yang akan memberi suara, dan matikan hp mu. Tiap minggu, tambahkan 10 menit lagi pada timer hingga kamu berhasil duduk dan menyelesaikan tugas-tugas yang rumit yang butuh berjam-jam pada waktu itu.

Gunakan interval waktu yang dijadwal untuk membangun ketahananmu terhadap ketidaknyamanan Intelektual

Tony Schwartz, pengarang buku The Way We’re Working Isn’t Working, menjalani prinsip mengendarai metode Pomodoro karena manusia telah didesain untuk selalu beralih antara kondisi menghabiskan dan memulihkan energinya. “Saya menulis dalam 3 atau 4 kali 90 menit, dan saya seratus persen melakukannya sendiri,” Kata Schwartz dalam buku Overwhelmed. “Kemudian, saya istirahat, lalu saya makan sesuatu, lari, atau bermeditasi. Saya beralih antar kegiatan. Tiga buku pertama saya masing-masing perlu setahun agar selesai. Buku terakhir saya, dengan saya mengerjakannya kurang dari setengah waktu normal saya setiap hari, dapat selesai dalam 6 bulan.”

Lakukan 1 set lagi, terutama ketika kamu merasa energimu sudah diambang batas

Untuk mendorong diri kami secara mental maupun fisik, pelatih lari lintas negara kuliah saya kadangkala memberi mil tambahan, pengulangan bukit atau interval waktu yang di dijadwal pada latihan kami. Sadis? Tidak perlu dipertanyakan lagi. Efektif? Tentu saja. Strategi ini bekerja dengan baik karena ketika kamu baru saja merasa kamu sudah selesai, ketika kamu baru saja merasa kamu tidak akan bisa lari satu langkah lagi, kamu memang mau tidak mau harus melakukannya. Dan kamu melakukannya. Dan kamu berhasil melewatinya. Jadi, tepat di saat ketidaknyamanan intelektual itu tak dapat ditahan lagi dan kamu ingin berhenti, pilihlah untuk lakukan 1 set lagi. Tulislah 1 kalimat lagi, desainlah 1 slide lagi saja, atau selesaikan saja 1 hitungan lagi. Kemudian, istirahatlah. Istirahat dan waktu pemulihan ini sangat penting kalau kamu ingin menyeimbangkan kerja kerasmu dan rasa lelahmu. Kalau kamu telah mendorong dirimu semaksimal mungkin selama sehari atau seminggu penuh, bersiaplah untuk tidak memerlukan waktu istirahat yang lebih lama lagi antar set. Yup, ini jenis latihan yang membuatmu sedikit lebih banyak menyelesaikan hal yang kamu lakukan, namun ini juga latihan yang baik untuk mengumpulkan keberanianmu dalam mendorong dirimu melakukan set tambahan itu.

Lawan decision fatigue

Profesor Psikologi Universitas Negeri Florida, Roy Baumeister menyatakan ini: decision fatigue itu nyata. Maksud dari Decision Fatigue keadaan dimana kita merasa lelah secara emosional dan intelektual karena terlalu banyak memiliki keputusan. Cory Booker, senator AS, mengontrol decision fatigue nya dengan membatasi jumlah pilihan yang harus dia buat, seperti baju apa yang harus dia pakai pada hari itu. “Saya rasa penting sekali bagi kita semua untuk menghilangkan hal-hal yang mengganggu kosentrasi kita dan juga pilihan yang terlalu banyak,” Kata Cory untuk buku saya Work Simply. “Ketika saya bangun di pagi hari, saya tidak punya jutaan baju untuk saya pilih. Semakin kamu batasi pilihanmu, maka kamu akan semakin menyederhanakan hidupmu dan kamu jadi bisa memfokuskan energimu untuk hal-hal lain.” [Ini sebuah tips yang juga dibagikan oleh Barack Obama] Kenali dan akui siklus waktu atau hari-hari dimana kamu telah membuat terlalu banyak keputusan, dan sadari bahwa kekuatan otak akan berdampak pada kemampuanmu untuk mendorong melewati ketidaknyamanan intelektual. Pertimbangkan juga untuk melakukan pekerjaanmu yang paling tinggi kadar ketidaknyamanan intelektualnya paling pertama di pagi hari – sebelum mengecek email atau telepon, dan juga sebelum “menanyakan” untuk keputusan ini dan itu.  

 Selalu tanyakan dirimu dan Jangan Pernah Menetap

Kabar pensiunnya Kobe Bryant dari NBA memunculkan artikel dan komentar yang mengangkat etos kerjanya yang mengedepankan fokus dan intensitas – latihan pada jam 4 dini hari  dan melakukan 800 tembakan sebelum latihan yang dijadwalkan dimulai. Mengapa dia sampai bekerja sekeras ini? Karena dia tahu, seberapa bagusnya kamu, kamu jangan sampai menetap kalau ingin tetap konsisten berada di posisi puncak. Jadi, tanyakan pada dirimu. Mengapa kamu melakukan apa yang kamu lakukan? Bagaimana cara pekerjaan yang  kamu lakukan memberimu suatu arti dan sejalan dengan tujuanmu? Apa yang akan dipertaruhkan pada pribadimu dan pada kehidupan profesionalmu kalau kamu tidak mendorong dirimu melewati ketidaknyamanan intelektual  ini dan tetap menetap pada hal yang mudah? Dan apa yang akan kamu lewatkan, ketika kamu tidak terus melangkah ke depan ketika hal-hal yang kamu lakukan semakin terasa sulit?

Misinya adalah tidak membiarkan dirimu menyerah sebelum kamu benar-benar memberikan usahamu yang paling terbaik untuk tugas atau proyek yang diberikan kepadamu.

***

Ketika kamu memilih untuk mengatur waktu dan energimu, kamu sedang membuat komitmen baru untuk dirimu sendiri – untuk menghadapi dan melawan melewati ketidaknyamanan intelektualmu. Yup, hal ini akan selalu menantang. Ia akan selalu mendorongmu. Tapi mendorong melewati ketidaknyamanan intelektual ini akan menciptakan kebebasan dan pertumbuhan intektualmu. Ia akan membangun rasa percaya dirimu; ia akan membuat realitas dari ide-idemu yang selanjutnya lebih nyata. Dan seharusnya ini akan menjadi sesuatu yang memberi energi lebih dan mencerahkan.

 
 
Artikel Asli: 
http://99u.com/articles/53927/how-to-fight-through-intellectual-discomfort
Advertisements

Leave a trace!

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s