The Dracula Slayer – Revealed!

maxresdefault

credit: NonebutAllah youtube channel

 

 

Penulis: Shibli Zaman
Penerjemah: Zane Araki

Siapa sangka bila 117 tahun setelah Drakula dikenalkan ke dunia Barat oleh Bram Stoker, Drakula menjadi seorang pahlawan. 

Tragisnya, pada iklim geopolitik hari ini dan pameran gencatan senjata abad pertengahan, tampaknya siapapun yang pernah dengan brutalnya membantai umat muslim akan dilihat kembali sebagai seorang pahlawan. Bahkan, pada minggu ini sebuah film konyol bergenre sci-fi/kuasi historis yang berusaha memutarbalikkan fakta mengenai sejarah naratif  Vlad Ţepeş dengan menjadikan Vlad yang antagonis menjadi protagonisnya akan diputar di bioskop terdekat. Film ini berusaha menghubungkan ceritanya dengan film yang dibintangi Mel Gibson yang berjudul “Braveheart”, dengan cara melukiskan sebuah pasukan penginvasi yang kebetulan adalah para muslim, yang ditentang pangeran dari suatu daerah setempat, dan pangeran itu pun harus memberlakukan kekerasan yang tidak masuk akal agar bisa mengusir para pasukan muslim ini. Mungkin banyak dari kalian yang  akan menonton filmnya- walaupun saya pribadi berharap kalian tidak menontonnya- dan karena itu saya akan memberikan beberapa poin ini:

Film ini menggambarkan pasukan muslim yang sedang menginvasi suatu daerah dan meminta anak-anak dari orang-orang Kristen yang malang yang telah ditaklukkan. Dari sini pula Vlad Ţepeş (yang akan saya sebut dengan nama Drakula) akan bangkit sebagai pemimpin pemberontakan terhadap pasukan muslim. Ini merupakan omong kosong belaka.

Ayah Drakula, Vlad Drakul II dan klan mereka, Rumah Drăculești, telah menjadi sekutu yang patuh pada Kekaisaran Ottoman. Kekaisaran Ottoman sebenarnya melawan John Hunyadi, musuhnya Rumah Drăculești, dalam rangka menggantikan kekuasaan Hunyadi untuk Vlad Drakul II. Jadi, tidak hanya Kekaisaran Ottoman ini bukan musuh Rumah Drăculești, mereka bahkan juga berusaha memberikan kekuasaan pada Vlad Drakul II melalui pertempuran dengan musuh Rumah Drăculești ini . (John Hunyadi merupakan kepala keluarga dari keluarga Corvinus yang digambarkan sebagai bangsawan vampir di film “Underworld”.)

Lebih lanjut lagi, ayah Drakula sendiri yang menawarkan kedua anaknya pada militer Kekaisaran Ottoman agar dapat dilatih oleh mereka, karena militer mereka merupakan yang terbaik di dunia pada masanya. Tidak hanya itu, ayah Drakula juga menawarkan kedua anak kandungnya, Drakula dan Radu, untuk mengabdi pada militer tentara Kekaisaran Ottoman dan dia juga meminta agar kedua anaknya dapat dibesarkan sebagai seorang muslim. Anda bisa membaca tentang sejarah masa kecil Drakula dan Radu di militer Kekaisaran Ottoman pada artikel saya ini.

Jadi, apa penyebab pembangkangan Drakula terhadap Kekaisaran Ottoman? Drakula adalah seorang oportunis, dan alasan Drakula sederhana saja: Emas. Walaupun umat kristen telah kalah pada hampir semua perang salib terhadap umat muslim, pada tahun 1459 di Perundingan Mantua, Pope Pius II memerintahkan perang salib lainnya terhadap umat muslim. Pada waktu itu, dunia umat muslim tengah dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman. Pope Pius II memberikan jumlah emas yang sangat banyak pada Matthias Corvinus, musuh Drakula yang merupakan anak dari John Hunyadi, dimana John Hunyadi sendiri adalah musuh ayahnya Drakula. Sekitar 40,000 buah emas lebih dari cukup untuk membangun pasukan baru dan angkatan laut. Drakula hanya tidak ingin musuhnya ini mendapatkan semua emas itu, sementara dia sendiri tidak. Pada titik inilah Drakula menjadikan Rumah Drăculești yang tadinya merupakan sekutu Kekaisaran Ottoman, menjadi musuh bagi Kekaisaran Ottoman.

Kita seringkali meratapi penggambaran negatif umat muslim di film dan televisi. We marah ketika melihat penggambaran yang tidak masuk akal dari ibadah dan tradisi kita pada serial seperti “Homeland”. Namun siapa juga yang bisa disalahkan ketika  kita sendiri memang tidak dirasakan kehadirannya di ranah media? Maaf atas apa yang akan saya katakan, namun seharusnya kita sendirilah sebagai umat muslim yang patut disalahkan. Kalau kita tidak memiliki kontribusi apapun pada media, mulai dari ranah jurnalisme hingga produser, akting, dan sutradara serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan itu, berarti kita beresiko membiarkan cerita yang kita tahu diceritakan ulang oleh orang-orang lain yang tidak menyukai kita. Contohnya saya sendiri, 4 tahun setelah artikel ini ditulis, saya telah berniat untuk mengusahakan agar kisah nyata sejarah Drakula ini dapat disampaikan melalui film. Namun pada akhirnya, tidak ada orang muslim, ataupun partai simpatisan yang sudi memberitahukan kisah yang sebenarnya melalui proyek film ini. Tebak apa yang kemudian terjadi? “Kisah Drakula yang Tidak Terungkap”. Itu merupakan kesempatan yang hilang. Namun kisah ini adalah jenis kisah yang telah diceritakan berulang-ulang kali. Belum terlalu telat bagi Radu, seorang pahlawan yang merupakan adik kandung Drakula untuk mendapat perhatian yang ia pantas dapatkan.

Lahir di Wallachia, Romania pada 1435 AD, ia dikenal sebagai Radu al III-lea cel Frumos di kalangan orang-orang Rumania; sebagai Yakışıklı Radu Bey bagi orang-orang Turki, Radu al-Wasim bagi orang-orang Arab, dan Radu the Handsome bagi orang-orang Inggris. Seorang sekutu dan teman masa kecil Al-Fatih ini memiliki peran vital dalam penaklukkan Konstantinopel untuk Islam. Keikutsertaan  Radu dalam penaklukkan tersebut yang menjamin kebenaran bahwa Sultan Mehmet II sebenarnya adalah “Fatih” atau “Penakluk” dalam sejarah. Radu merupakan senjata rahasia Kekaisaran Ottoman terhadap Safavid hingga ke Timur serta Serbia, Romania, Hungaria, dan Barat. Orang-orang muslim berhutang banyak pada pahlawan Islam yang satu ini, namun mereka hanya sedikit mengulas tentangnya karena khawatir akan  mengalihkan pusat perhatian dari Al-Fatih ke Radu. Bizantium mencatat Radu sebagai sosok yang dzalim dan sangat dibenci, namun itu semata-mata karena Radu memeluk agama Islam dan berperan penting dalam kejatuhan Kekaisaran Bizantium.

Namun Jenderal Kekaisaran Ottoman ini telah mengalami perang yang jauh lebih besar melawan kegelapan. Radu lah sang pemburu sumber legenda vampir yang menombak musuh-musuhnya dan meminum darah mereka – Vlad al III-lea Ţepeş, yang lebih dikenal sebagai Vlad Drăculea, atau Dracula, nama terkenalnya. Karakter Profesor Abraham Van Heling tak lebih dari sekedar isapan jempol  belaka dari imajinasi Bram Stoker yang menakutkan, namun Al-Fatih dan Radu cel Frumos adalah satu-satunya pemburu vampir yang nyata dalam sejarah.

Persaudaraan yang Bertumpah Darah
Kecintaan Radu terhadap Islam dan kesetiaannya pada Al-Fatih dapat kita kilas balik melalui aliansi politik dari ayah-ayah mereka. Vlad II dari Rumah para Drăculeşti (“Rumah Para Naga”) merupakan sekutu dan pengikut dari ayah Al-Fatih, yaitu Sultan Murad II. Vlad II memiliki 4 anak laki-laki: Mircea II, Vlad IV Călugărul (“Sang Pendeta”), Vlad III yang kemudian akan dikenal sebagai Drakula, dan Radu III cel Frumos (“Yang Tampan”). Sebagai bentuk persatuan dengan Sultan, Vlad II menawarkan 2 orang anaknya, yaitu Drakula dan Radu, untuk mengabdi pada Kekaisaran Ottoman. Di bawah pengawasan para Janisaris (pengawal Kekaisaran Ottoman), Drakula dan Radu mempelajari Qur’an, bahasa Arab, Turki, Persia, Teologi dan ilmu hukum dalam Islam, dan yang paling dinanti, mengenai strategi militer Ottoman dan taktik dalam peperangan.

 Pasukan khusus Kekaisaran Ottoman yang memiliki status yang disegani di bidang militer dan sosial adalah para Janisaris dan Sipahis. Janisaris merupakan infanteri elit dari militer Kekaisaran Ottoman dan merangkap sebagai pengawal pribadi Sang Sultan dan keluarganya. Sipahis merupakan pasukan berkuda elit yang mengelilingi Sultan di medan perang dan biasanya dikirimkan pada para musuh yang keras kepala. Kedua pasukan elit Kekaisaran Ottoman ini merupakan para komando dan pasukan khusus terbaik di masanya. Walaupun Sipahis beranggotakan orang Turki asli seperti yang diminta oleh Al-Fatih sendiri pada mandat hukumnya yang berjudul Kanun Nameh-e-Sipahi (“Kitab Hukum Para Sipahis”), Drakula dan Radu yang masuk dalam Janisaris, berpindah agama menjadi Islam.

Drakula muda terus memberontak pada pihak kekaisaran sehingga ia dipenjara dan dikritik keras.  Akibat pihak kerajaan memberikan hukuman yang berat padanya, tumbuh perasaan dendam yang semakin kuat dalam diri Drakula muda. Ia sangat membenci ayahnya karena telah menjadi sekutu Turki. Bagi Drakula muda, ayahnya telah melanggar sumpahnya terhadap Orde Naga, sebuah persatuan kristiani yang bertujuan untuk melenyapkan umat islam dari Balkan. Drakula membenci Radu karena kesuksesannya, dan dukungan yang tulus dari Turki. Drakula didera cemburu buta pada Al-Fatih muda yang juga seorang pangeran namun berbalik dengan Drakula, Al-Fatih dikarunia kehidupan yang mewah dan jauh dari kesulitan. Drakula pun cemburu pada kedua kakaknya, Mircea dan Vlad si Pendeta yang selalu ayahnya jadikan panutan. Namun rasa cemburunya pada Mircea juga bercampur dengan kekaguman, karena dari Mircea, Drakula muda bisa mempelajari taktik teror dengan cara menombak.

Radu tetap berpegang teguh pada agama Islam dan menjaga kesetiaannya pada Al-Fatih dengan menghabiskan seluruh hidupnya pada pertempuran di garda terdepan Kekaisaran Ottoman, menaklukkan para musuh kekaisaran yang tersulit. Keahliannya dalam pertempuran tak tertandingi, bahkan Janisaris dan Sipahis dari militer Ottoman pun tidak bisa menyaingi kemampuannya, sehingga Radu sering menjadi andalan ketika melawan musuh-musuh yang terlihat mustahil untuk dikalahkan. Diyakini bahwa Radu mengubah sejarah Near Eeastern ketika dia berhasil menurunkan Ak Koyunlu yang telah memerintah Kekaisaran Ottoman melebihi masa jabatannya. Apabila penurunan itu gagal, maka mungkin saja Timur Tengah dan Eropa yang kita kenal saat ini akan memiliki wajah yang berbeda ketika Ak Koyunlu tidak lengser dari jabatannya. Karena keberhasilannya itu pula, Radu yang dipilih untuk menghadapi ancaman dari kampung halamannya sendiri, Wallachia, yang bahkan tidak mampu ditangani oleh Janisaris dan Sipahis.

Penaklukkan Konstantinopel
“Pada hari ketiga setelah kejatuhan kota kita, Al-Fatih merayakan kemenangannya. Dia mendeklarasikan: semua penduduk dari segala umur yang telah berhasil kabur dari pengepungan tentara Kekaisaran Ottoman diperbolehkan keluar dari tempat persembunyiannya di seluruh sudut kota, dan dibebaskan dari pertanyaan apapun. Rumah dan segala macam properti milik penduduk yang meninggalkan kota sebelum pengepungan, akan tetap menjadi milik penduduk yang meninggalkan kota, dan agar penduduk asli tetap diperlakukan sesuai dengan kelas dan agamanya, seperti sebelumnya.” (George Sphrantzes, 1401-1478; Penguasa kristiani Bizantin dan saksi dari kejatuhan Konstantinopel)

Masa itu penuh dengan kedamaian dan sukacita. Deklarasi dari Al-Fatih merupakan kabar gembira bagi para penduduk asli Konstantinopel yang awalnya mengira mereka akan dimusnahkan. Masa itu merupakan perayaan besar bagi seluruh umat muslim di dunia terhadap penaklukkan dari kota yang hingga kini telah menjadi ibukota dari Turki. Ketika Al-Fatih tengah merayakan kemenangannya dengan mengelilingi kota itu, kala ia menatap sekilas wajah sahabatnya yang kini menjadi telah menjadi Pemimpin Janisaris, Radu cel Frumos, anak lelaki Vlad II dari Kekaisaran Wallachia, menjadi pengingat kelam baginya, bahwasanya di suatu daerah utara sana, di luar kekuasaan Bizantium, telah menunggu seorang musuh terbengisnya. Di antara semua musuh itu, yang paling ditakuti adalah Drakula, yang kebetulan sekali merupakan saudara kandung Radu.

Kebangkitan Drakula
Para kaisar Wallachia selalu mengandalkan pengkhianatan untuk mewujudkan misi mereka, dan  inilah yang dilakukan Vlad II ketika ia membolehkaan kedua anaknya, Mircea dan Vlad IV untuk mengadakan pemberontakan dengan penombakan musuh-musuhnya yang dilakukan oleh Mircea. Drakula muda menyukai apa yang dilakukan oleh kakak-kakaknya ini, sehingga ia pun ikut bergabung dengan Mircea pada pemberontakan terhadap Ottoman dan klan Dăneşti yang dibantu oleh Laksamana Hungaria, John Hunyadi. Pada akhirnya, Hunyadi menyerbu ayah Drakula dan membunuhnya di rawa-rawa Bălteni dan membutakan serta mengubur hidup-hidup Mircea di Târgovişte. Hunyadi memberikan kuasa kepada Pangeran Dăneşti, Vladislav II untuk memerintah Wallachia. Drakula mengesampingkan dendamnya pada Hunyadi yang telah membunuh ayah dan kakaknya demi ambisi dan nafsunya untuk memperoleh kekuasaan, sehingga ia pun bersekutu dengan Hunyadi dan menjadikan Hunyadi sebagai penasihat. Ketika Hunyadi sedang perang dengan pasukan Ottoman di Belgrade, Serbia, Drakula memanfaatkan peluang ini untuk menyerang dan membunuh Vladislav II untuk menggantikan posisinya pada takhta kekuasaan. Keberuntungan terus berlanjut bagi Drakula, suatu wabah menyebar di kamp Hunyadi, yang menginfeksi Hunyadi hingga ia tewas. Sementara itu, Al-Fatih terluka cukup parah pada pertempuran melawan Hunyadi itu. Peristiwa ini mengakibatkan Drakula dapat memerintah Wallachia tanpa interferensi selama 6 tahun. Hanya inilah masa terlama pemerintahan kekaisaran dibawah kekuasaan Drakula.

Sang Penombak
“Saya telah membunuh pria dan wanita, tua dan muda… sebanyak 23,884 orang Turki dan orang Bulgaria tanpa terhitung yang kami bakar di rumah mereka atau siapa yang kepalanya tidak kami penggal.” (Drakula, dalam suratnya kepada Matthias Corvinus, membangga-banggakan tiraninya sendiri)

Kala A-Fatih mendekati areal hutan yang tandus, tercium bau busuk yang menyengat, dan  Al-Fatih benar-benar terkejut ketika mendapati apa yang ia lihat. Al-Fatih dan rombongannya hampir sampai pada Târgoviște, ibukota Wallachia, ketika ia melihat pemandangan itu dari kejauhan. Awalnya ia tidak terlalu memerhatikan apa yang lihat, namun ketika mereka semakin mendekati pemandangan itu, kuda-kuda kavaleri semakin sulit diatur dan  para tentara infanteri mulai berfirasat buruk pada apa yang akan mereka lihat ini. Karena kemudian, yang mereka lihat di depan mata adalah 20,000 mayat dari pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah, yang merupakan korban Drakula pada suatu musim dingin di tahun 1462 itu.

Terlepas dari pendidikan muslim yang Drakula tinggalkan demi mengejar kesempatan lain, kemampuan bahasa Turkinya tidak diragukan lagi dan dapat membuatnya berbaur di antara orang Turki dalam kamp paling aman di Kekaisaran Ottoman. Hal ini menjadi konsekuensi  yang fatal bagi para muslim. Drakula telah memasuki Serbia bersama pasukannya yang telah menyamar sebagai Sipahis Ottoman, dan mereka pun berhasil membantai semua muslim dan non-muslim yang telah begitu menerima mereka. Tujuan penyusupan oleh Drakula dan pasukannya adalah sebagai pengingat yang mengerikan bagi Al-Fatih bahwa mereka akan segera menguasai ibukota Turki ini. Mereka juga mendirikan monumen yang tidak suci itu sebagai peringatan dan teror bagi Al-Fatih dan pasukannya dengan harapan pasukan Al-Fatih akan menyerah.

Yang menarik adalah berdasarkan catatan sejarah, tidak ada satupun pasukan Kekaisaran Ottoman yang membelot dari Al-Fatih setelah menyaksikan teror dari pasukan Drakula ini. Mereka menghadapi Drakula dan pasukannya dengan gigih dan tanpa rasa takut. Namun beberapa sejarawan mengusulkan bahwa Al-Fatih telah kehilangan semangatnya untuk memburu Drakula setelah invasi dari Drakula ini dan ia mengalihkan misi ini pada satu-satunya orang yang mampu memburu dan membunuh Drakula. Setelah berhasil menguasai Târgoviște, Al-Fatih kembali rumah, dan memberikan misi ini pada Radu. Lagipula, yang dibutuhkan adalah orang yang sangat mengetahui seluk beluk pemikiran Drakula agar dapat mengalahkannya, dan orang yang paling cocok dengan kriteria ini adalah saudara kandungnya sendiri.

Peristiwa ini membuat Drakula digelari dengan nama Vlad Ţepeş, yang merupakan kata dari bahasa Rumania “Ţepeş” yang artinya “Penombak”. Menurut legenda, apabila dilihat dengan cermat, pada kata itu ada taring Drakula yang menggelantung di bawah salah satu huruf sebagai peringatan yang tersembunyi akan nafsu sang Vampir yang mengerikan terhadap darah.

Radu vs. Drakula: Pertumpahan darah antara Dua Bersaudara
Dengan jatuhnya  Târgoviște ke tangan Al-Fatih, Drakula segera pergi ke Transilvania dengan harapan akan mendapat bantuan dari anak lelaki John Hunyadi, Matthias Corvinus. Sesuai karakteristik Drakula yang oportunis dan tidak menghormati agama, ia menawarkan dirinya menjadi seorang katolik dalam rangka mengambil hati Corvinus. Dia membumihanguskan semua daerah yang bisa ia raih dan membantai semua yang hidup di depannya, meninggalkan kesedihan dan banyaknya tubuh-tubuh yang menggeliat kesakitan setelah ditombak oleh Drakula. Drakula tidak mau menyerahkan kampung halamannya begitu saja ke tangan para muslim. Dia pun memulai kampanye pengepungan yang diwujudkan melalui perang gerilya, yang tidak mampu dicegah oleh Pasukan Sipahis Kekaisaran Ottoman. Dikatakan bahwa Drakula berhasil membantai 15,000 tentara Kekaisaran Ottoman dalam satu malam. Dengan kalahnya pasukan Kekaisaran Ottoman yang terkuat, Radu tetap tidak terpengaruh oleh hal ini, sebagai wujud dari kesalehannya yang luar biasa, dan ia pun bertekad mengakhiri kekuasaan berdarah Drakula malang yang telah tersesat sedemikian rupa itu. Tinggal Radu bersama janisarisnya yang merupakan para muslim Rumania yang akan melawan Drakula.
Kedua bersaudara itu saling berperang untuk waktu yang lama, untuk memperebutkan kekuasaan atas Wallachia. Kuasa Radu pada daerah perang itu semakin meningkat seiring dengan berkurangnya bantuan dari Matthias Corvinus di Hungaria kepada Drakula. Suatu kebetulan yang aneh, Corvinus yang tadinya merupakan sekutu Drakula malah menjebloskan Drakula ke dalam penjara selama 12 tahun dengan tuntutan pengkhianatan. Warga Wallachia dan para pendeta kristen telah merasa muak dengan teror Drakula, dan mengalihkan dukungan mereka pada Radu yang akhirnya diangkat menjadi Pangeran dan Penguasa Wallachia pada tahun 1462, dan dijuluki sebagai Voivod. Radu memerintah Wallachia selama 11 tahun hingga akhir hayatnya. Sementara itu Drakula yang dipenjara di penjara Budapest tetap sabar menunggu hari kebangkitannya dari kegelapan.

Pembebasan Drakula dan Pertempuran Terakhir
Setelah wafatnya Radu pada tahun 1473, Drakula dibebaskan dari penjara. Ia segera menyiapkan pasukan dan menginvasi Bosnia, serta membantai penduduk muslimnya dan menombak 8,000 muslim Bosnia di hutannya. Sekali lagi, Drakula telah bangkit dari kegelapan dengan misi menghilangkan islam selama-lamanya dari Balkan. Drakula akhirnya mendapat kekuasaan Wallachia setelah kepergian Radu, namun hanya selama sebulan. Al-Fatih kembali menginvasi Wallachia untuk menjatuhkan Drakula dari kekuasaannya demi menghormati sahabat tercintanya Radu. Pada tahun 1476, pasukan Al-Fatih menghadapi pasukan Drakula di Bukares, Rumania. Drakula dan pasukannya berhasil diserbu dan dibunuh. Sang Vampir telah tewas. Tidak cukup sampai disitu saja, kepala Drakula juga dipenggal dan disimpan dalam botol yang berisi madu, dan dikirimkan ke Konstantinopel. Kemudian kepala Drakula ini pun ditombakkan di tengah kota Konstantinopel agar semuanya bisa menyaksikan kejatuhan Drakula, agar tidak terjadi keraguan ataupun misteri mengenai nasib sang Vampir.

Pada akhirnya, para muslim, berhasil membunuh Drakula.

Catatan Penulis (Shibli Zaman) 10-10-2014: Saya menulis “Bagaimana Cara Muslim membunuh Drakula”pada tahun 2010 dengan harapan dapat menceritakan kisah dari seorang pahlawan yang jarang didengar, Radu cel Frumos the Voivod, seorang tentara Wallachia yang memimpin pertempuran melawan saudara kandungnya yang haus darah, Vlad Ţepeş Vlad Ţepeş  terkenal dengan kekejiannya melalui nama Drakula. Semenjak itu, artikel ini telah dibagikan lebih dari seribu kali dan diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa dan juga tulis ulang oleh penulis-penulis berbakat lainnya dengan detil yang lebih jelas daripada yang saya berikan di artikel saya. Sayangnya, artikel ini juga telah dikopi oleh orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. Dalam kesempatan lain, artikel ini juga telah diplagiat oleh seorang simpatisan tidak terkenal yang pandai memutarbalikkan informasi yang ada di artikel ini demi kepentingan pribadinya. Pada intinya- untungnya, namun kadangkala juga sayangnya-artikel ini akhirnya dapat tersebar luas. Karena itu saya sangat berterimakasih dan saya pun yakin Radu dan sahabat baiknya Al-Fatih (Sultan Mehmet II) juga sangat berterimakasih atas tersebarnya artikel ini.

 

Artikel Asli:
http://www.virtualmosque.com/islam-studies/history/how-the-muslims-killed-dracula/

Advertisements

Leave a trace!

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s